This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Sabtu, 28 Desember 2013

Tentang 2 Bata Jelek



Beberapa hari ini, saya sedang membaca sebuah buku Si Cacing dan Kotoran Kesayangannya. Sebuah buku yang sudah lama saya tahu, namun tidak sekalipun saya pengen membacanya waktu itu. Dan, sekaranglah waktu itu datang, disaat yang tepat dan kondisi yang sedang membutuhkan bacaan.

Tentang 2 bata jelek, salah satu tulisan yang menarik sekali buat saya. 2 bata jelek ini menceritakan tentang bagaimana kebanyakan dari kita selalu melihat tentang keburukan, tentang kesalahan, ya intinya tentang hal-hal yang negatif yang dimiliki manusia dan mengabaikan tentang ratusan bata baik lainnya.

Seringkali yang terjadi adalah kita berfokus kepada kekurangan, kekeliruan, kesalahan, keburukan, dan itulah 2 bata jelek yang kita miliki, tiap orang memiliki hal itu, pasti. Padahal di dalam diri kita masing-masing juga ada, ratusan bata baik yang lebih banyak daripada 2 bata jelek itu, namun ketika kita sudah fokus ke 2 bata jelek itu, yang baik pun juga sudah terlupakan.

Banyak orang merasa, bahwa mereka tidak punya apa2, tidak bisa ngapa2in, yang ujung-ujungnya stress sendiri dan akhirnya mati konyol karena bunuh diri, ya karena mereka hanya melihat 2 bata jelek itu saja dalam diri masing-masing, fokus di kekurangan, bukan sebaliknya, padahal jumlah batanya lebih banyak yang baik daripada yang jelek. Ya itulah manusia. Sama halnya, ketika kita mempunyai pasangan, kadang isinya bentrok melulu, salah melulu, mencari kesalahan demi kesalahan, padahal jika mau melihat dari sudut pandang yang lebih luas, disamping 2 bata jelek dari pasangan itu, semuanya bata baik yang jumlah banyak. Manusia yang sedikit terlena karena emosi.

Seakan2 kejadian-kejadian yang dialami paling buruk, sehingga kebaikan2 yang pernah terjadi, kelebihan2 yang dimiliki tidak ada artinya. Mungkin memang tidak mudah untuk mencari jalan keluarnya, apalagi yang sudah terlanjur memiliki ego tinggi, yang tidak bisa mengalah dan mau mengucap maaf,

dan pada akhirnya, mau tidak mau, BERDAMAI DENGAN DIRI SENDIRI dan menerima kekurangan orang lain yang jadi exitnya.

Rabu, 25 Desember 2013

Tentang Sebuah Pilihan



Ada banyak pilihan yang tersedia dalam perjalanan hidup kita. Semuanya bebas untuk kita pilih, tanpa harus takut kepada orang lain. Terkadang pilihan yang kita pilih membuat orang lain mendukung atau bahkan sebalik, menentang pilihan kita. Lebih banyak yang patah arang ketika pilihan kita, tidak didukung orang lain, dan memilih menuruti pilihan orang lain yang lebih mayoritas daripada pilihan diri kita sendiri hanya karena semata-mata tidak ada yang mendukung.

Respon terbaik adalah jalan terbaik untuk menjawab semua itu, ketika pilihan kita tidak ada yang mendukung, belajar untuk menguatkan diri untuk focus dan yakin bahwa pilihan kita yang terbaik, kita tidak harus serta merta menerima pendapat orang lain yang melemahkan kita, siapapun itu. Dengarkan pendapat mereka, bahkan pendapat yang buruk sekalipun, dengarkan saja, namun kita tidak harus melakukan apa yang mereka mau. Mungkin, pendapat orang lain ada benarnya tentang pilihan kita, disitulah kita harus bijak meresponi setiap pendapat yang masuk.

Saat kita memutuskan memilih sesuatu, terkadang ada sesuatu yang harus dikorbankan, bahkan bisa jadi pengorbanannya sangat besar dan belum tentu pilihan kita itu benar. TAPI, bisa jadi, apa yang kita pilih adalah sebuah gerbang menuju kehidupan baru yang lebih baik dan sangat jauh lebih baik. Siap tidak siap, kita harus bersiap menerima resiko tersebut, resiko untuk gagal atau resiko untuk berhasil.

Kuncinya satu, FOKUS untuk maju. Jangan melebaykan ketakutan-ketakutan yang ada dalam diri kita. Sekalipun pada akhirnya belum berhasil, paling tidak kita mendapatkan pengalaman berharga dan pelajaran penting.

Bertumbuh Dengan Pelukan



Tulisan ini terinspirasi dari kejadian-kejadian yang saya lihat, maupun yang saya rasakan sendiri. Pernah suatu ketika, di pagi hari, saya mendapati seorang bapak yang sedang mengantar anaknya ke sekolah dengan sepeda motornya lewat di samping rumah, dari sekilas yang saya dengar, bapak ini menasehati anaknya dengan marah-marah. Saya perhatikan ekspresi dari bapak maupun anaknya, anaknya ini sudah SMA.

Inti dari percakapan sekilas itu, “patuhlah pada apa yang dikatakan orang tua” itu kata2 yang disampaikan Bapak ke anak-anaknya tapi dengan nada yang tinggi. Ekspresi anak itu pun, ya ekspresi takut dan sudah pasti diam saja. Itu sekali, ternyata ada kali kedua dan ketiga, saya mendapati bapak itu ketika mengantarkan anaknya itu dengan ceramah marah-marah juga, saya Cuma batin, “ya mungkin cara itu yang diterapkan di keluarga itu, harus dengan marah2”.

Saya pun di didik dengan cara yang kurang lebih sama, keras dan marah2, tidak jarang juga yang namanya gagang sapu atau rotan mendarat dengan manis di badan. Dan sampai sekarang pun saya tidak habis pikir dengan cara itu, ya mungkin sudah tradisi di keluarga cara seperti itu, tapi kadang juga tidak masuk akal. Namanya anak, yang namanya nakal asal tidak kebangetan pun wajar. Dan saya mendapati, bahwa kebanyakan yang terjadi adalah, anak mengikuti keinginan orang tua, bukan sebaliknya.

Namun, kebanyakan ortu mungkin lupa, bahwa setiap anak punya hak untuk menentukan pilihan masing-masing. Buat saya tidak masalah, ortu mengarahkan namun tidak secara pihak mengekang kebebasan si anak. Anak juga berhak untuk merdeka, dan itu yang tidak pernah saya dapatkan. Ternyata ada, keluarga yang mendidik anak-anaknya dengan disiplin yang tinggi, tegas namun tidak keras dan lebih banyak komunikasi dari hati ke hati dan saya mendapati itu. Sehingga anak pun menjadi dekat dengan orang tua, menempatkan orang tua sebagai sahabat, bukan sebagai dictator.

Seandainya, semua ortu bisa mengerti anak dari sudut pandang anak, bukan melulu tentang obsesi orang tua yang tidak pernah kesampaian dan dibebankan ke anak2nya. Dan alangkah indahnya, ketika semua keluarga tumbuh dengan pelukan. Pasti ke depan, generasi-generasi yang muncul pun bukan generasi yang mudah marah, mudah tersinggung, karena mereka di didik dengan hati dan diajari untuk mengerti orang lain.

Minggu, 15 Desember 2013

Jangan Cuma Hari Ini

[caption id="attachment_479" align="alignnone" width="300"]TIm 9 | SongoSelow TIm 9 | SongoSelow[/caption]

Kata-kata dari seorang teman baru yang semalam sempat terucap, ketika kami, kelompok kecil yang terbentuk dari berbagai macam komunitas, selesai mengikuti sebuah acara perlombaan tentang #HeritageRace yang diadakan oleh komunitas penggiat sejarah di kota Semarang. Harusnya ada 10 orang di tim kami, namun yang ada, kami hanya berdelapan. Namun hal itu tidak mengurangi keseruan yang ada di tim kami, tim nomer Sembilan yang punya slogan “ SongoSelow” :D.

Start dari pagi hari, untuk pertama kalinya kami bertemu, berkenalan, masih ada rasa-rasa canggung. Situasi mulai mencair, setelah beberapa saat satu dengan yang lain mulai mengenalkan diri. Ya itulah kami pagi itu, berangkat dari latar belakang yang berbeda, komunitas berbeda, namun semuanya menyatu, tanpa pernah memperdulikan asal muasal, pagi itu kami dibentuk untuk mengikuti lomba itu.

Dari awal, tim Sembilan, tim kami ini, tidak mengincar kemenangan, kami lebih menikmati apa yang menjadi tugas dan challenge yang diberikan oleh panitia. Menang syukur, tidak menang pun ya sudah, pagi itu kami bersenang-senang. Ketawa – ketiwi, dan kebanyakan yang kami lakukan bernarsis ria, dimana saja siap foto.

Hal itulah yang menguatkan kami sebagai tim, celotehan-celotehan kecil terjadi, guyonan, ya semuanya melebur. Tidak ada lagi tentang saya, maupun komunitas tempat saya berasal, begitu juga dengan teman2, lebur, dan inilah keseruan kami pagi itu. Teman yang baru, persodaraan baru dan pastinya akan menjadi cerita-cerita baru di masa depan.

Tim kami, memang tidak mendapatkan penghargaan apapun di malam Awarding Night di acara itu, namun ketika salah satu anggota tim kami diundang ke panggung menyampaikan testimony dan kesan-kesan mengikuti acara itu, tim kami jadi bahan pembicaraan, ya semacam trending topic disbanding tim pemenang itu sendiri :D.

Bagaimana tidak, anggota kami menceritakan salah satu moment yang sebenarnya pun menjadi momen lucu dan seru bagi kami selama mengikuti acara race ini, tentang tantangan belanjaan yang kami beli susah payah hanya karena kami keasikan membeli es doger, belanjaan itu ketinggalan dan ketika panitia di cek poin menanyakan tentang belanjaan itu, barulah kami menyadari ada yang “hilang” hahahaha. Dan tambah parah, MC di acara awarding itu memang gokil plus edan, dan jadi bahan bully-an lah tim kami di malam itu :D hahaha,, konyol memang, namun dari situ muncul persaudaraan baru.

Jangan Cuma Hari Ini, rasa persaudaraan itu muncul. Buat satu persatu cerita baru dari persaudaraan baru ini. Kenangan-kenangan baru untuk kami, saudara-saudara baru kami kelak.

“Satu Tempat, Puluhan Manusia, Sejuta Tujuan, Satu Cerita Baru ( Alim )”

Jumat, 06 Desember 2013

Kemana Fokusnya



Memang tidak bisa dipungkiri apa yang kita pikirkan pasti tidak sama dengan yang ada di pikiran orang lain. Tidak perlu jauh2, dengan orang- orang terdekat sajalah, bisakah menyamakan visi dan misi untuk mencapai sesuatu? Mungkin akan mudah sekali ketika yang dipikirkan adalah pikiran yang mainstream, yang kebanyakan orang pikirkan, namun bagaimana dengan pikiran yang menantang arus. Bisa jadi kita akan berkonflik dengan orang-orang sekitar kita yang tidak sefrekuensi pikirannya, apabila kita tidak merespon dengan benar tentang hal itu.

Namun sebenarnya kalo kita mau focus ke SOLUSI, bukan semakin memperkarakan masalah yang terjadi, semuanya bisa diselaraskan. Konflik terjadi, ketika kita dengan pihak lain saling show off ego, sama-sama kekeh dengan pendapatnya masing-masing sehingga tidak ketemu jalan tengahnya. Memang tidak mudah, untuk menurunkan ego, ada factor jaim dan gengsi yang dipertaruhkan disana. Belajar menerima pendapat orang lain itu memang tidak mudah, membutuhkan kebesaran hati, untuk memberikan ruang kepada orang lain.

Hari-hari ini saya pun juga masih belajar tentang hal itu, karena saya menyadari bahwa jalan yang saya pilih berbeda dengan orang kebanyakan dan factor-faktor dari masa lalu juga tidak bisa lepas dari kehidupan saya sekarang ini. Jadi ada 2 PR yang harus saya, perbedaan pikiran dengan lingkungan sekitar dan justifikasi atas masa lalu saya. Mungkin ketika saya focus, ke 2 hal itu, yang terjadi adalah saya tidak pernah maju dan saya akan terjebak di masa lalu saya. Namun Thanks GOD , saya sudah tidak berada disana lagi, di area masa lalu saya. Dan meskipun, harus menerima kenyataan bahwa orang-orang terdekat pergi karena ke 2 hal di atas.

Hari ini banyak orang – orang baru yang membantu saya, mengangkat rasa percaya diri saya lagi yang sempat down, membantu saya menemukan jalan dan solusi untuk menyelesaikan efek-efek masa lalu saya. Dan saya sangat mensyukuri hal itu, masih ada orang yang mau menerima saya dengan keadaan saya yang amburadul. Dan inilah yang saya perlukan, SOLUSI, karena ketika orang lain hanya berbicara tentang justifikasi dan kesalahan, rasanya saya sudah kenyang dengan hal itu. FOKUS!

Minggu, 24 November 2013

Pemilik Kesalahan

Menjadi orang yang punya masa lalu buram, sejatinya tidak pernah dibayangkan oleh orang yang mengalami pengalaman itu. Namun ketika orang tersebut mampu menyikapinya dengan baik dan benar semuanya akan mampu dilaluinya dengan baik. Tapi hal itu tidak berlaku bagi kebanyakan masyarakat kita, ketika ada yang pernah melakukan kesalahan, hukumannya adalah di bully, di judge seenaknya, dan kebanyakan hanya bisa mengejudge tanpa bisa memberikan solusi untuk orang tersebut keluar dari masa lalunya yang suram. Dan, mungkin tanpa pernah diketahui para pengejudge itu bahwa orang yang bermasa lalu suram itu bisa jadi terus berusaha sekuat tenaga dan berupaya semaksimal mungkin untuk keluar dari jeratannya masalahnya itu namun karena belum ada hasilnya, rewardnya sekali lagi adalah di bully lagi.

Tidak ada yang mau hidup dalam kesusahan dan terjebak dalam suatu masalah terus menerus, saya meyakini hal itu. Saya juga pernah menjalani dan mengalami berada di fase itu, dan sampai detik ini pun saya masih mengalaminya. Mungkin, ketika yang menjudge kita adalah orang-orang yang jauh dari kehidupan kita, tidak perlu dibikin pusing. Namun ketika yang menjudge adalah orang-orang terdekat kita, bisa jadi soal yang penting ketika kita tidak merespon dengan baik. Ketika hal itu saya alami, saya hanya menguatkan FOKUS saja, ketika kita fokus ke bully an itu, yang ada hanya masalah dan masalah yang akan kita hadapi ke depan, saya tetap FOKUS ke plan SOLUSI saja, bukan yang lain.

Dengarkan saja setiap bully an yang diucapkan ke kita, belajar untuk bersabar, belajar untuk tenang, keep smile :D. Terus berserah ke Tuhanmu. Yakini saja, kehidupanmu tak selamanya berada di bawah, ibarat bola yang memantul, ketika bola itu jatuh ke bawah, setelah itu dia akan memantul ke atas. Ya sesederhana itu hidup kita, namun terkadang memang faktanya tidak sesederhana itu.

Banyak orang yang berhasil dalam kehidupan mereka, sekalipun bermasa lalu suram. Jangankan orang-orang besar di belahan dunia yang lain, di dekat kita, kita bisa banyak belajar dari orang yang berhasil dalam kehidupan mereka. Dan jangan-jangan, masa lalu suram itu memang bagian dari proses yang harus dilewatkan dalam kehidupan ini untuk meraih sukses. Dan jangan-jangan pula, para pengejudge itu belum melalui proses itu, sehingga bagi mereka mudah sekali untuk membully? :D.

Semangat ya kawan-kawan yang (mungkin) saat ini sedang dirundung masalah, keep faith, keep strong, keep moving . Pasti ada jalan keluar, percayai hal itu. You’re Not Alone. Tuhanmu selalu bersamamu. Mari bergandengan tangan, saling menguatkan dan terus bergerak.

Minggu, 17 November 2013

Wisma Perdamaian & Noni Belanda



Halo Selamat Pagi,, J

Ketemu lagi di hari senin, ini hari yang ditunggu-tunggu ya setelah weekend kemarin ato malah hari ini adalah hari yang menyebalkan? Hahaha… :D. Percaya saya, kalo pengen setiap hari berasa hari libur, jadi entrepreneur saja :D. Enak mau ngatur jam kerja, mau ngatur bayaran berapa dan seabrek enak-enak yang lainnya tapi tetep ya, kalo mau ngerasain enak itu harus nyobain yang nggak enak dulu.

Pengen sharing kegiatan semalam saja deh. Semalam saya dapat kesempatan buat dolan ke Wisma Perdamaian, lokasinya di seberang Lawang Sewu. Orang semarang saya yakin pasti banyak yang tahu, tapi kebanyakan juga belum pernah kesana hehehe. Semalam ada undangan kumpul-kumpul dengan temen-temen kreatif di Semarang.

Nah, mumpung di Wisma Perdamaian, jalan-jalanlah saya dan teman-teman yang lainnya ke lantai atas, menikmati Lawang Sewu dan Tugu Muda dari teras lantai 2. Di ruangan lantai 2 ini sangat terasa hawa mistisnya, menurut cerita penjaga gedung ini, Wisma Perdamaian ini usianya jauh lebih tua dibandingkan Lawang Sewu. Yang lebih seru lagi, si penjaga ini cerita, lantai 2 ini kerap muncul noni2 Belanda.

Ceritanya mulai seru, ketika penjaga ini cerita ketika noni-noni Belanda ini pernah ditemuinya di awal-awal dia masuk kerja, saat itu tanpa sengaja, penjaga itu membuka kamar tidur noni itu dan mendapati si noni yang berambut pirang itu sedang merias dirinya di depan kaca dan mengenakan gaun. Dan tanpa diminta, penjaga itu menunjukkan kamar tidur si noni tersebut. Kamar yang cukup luas, dengan pintu-pintu yang besar.

Petualangan seru semalam, pertama kalinya datang ke gedung itu dan mendapat kesempatan untuk tour singkat di dalam gedung itu. Dan, inilah yang terkadang membuat saya berkhayal, punya mesin waktu, melihat Semarang di masa lalu dengan mata kepala sendiri :D.