This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Senin, 08 April 2013

Bangun Lagi Dong Lupus

review-bangun-lagi-dong-lupus-lupus-bangun-lalu-tidur-lagi


Finally, nonton juga malam ini. Meskipun tadi pas nyampe gedung bioskop, setengah jam sebelum jadwal main, masih sepi penonton dan harus nunggu kuota dulu min 6 orang, sebab kalo kurang dari itu, alamat nggak jadi diputar hehehe, maklumlah kota kecil. Dan, teng jam 7 malam, mendadak ramai tuh yang nonton Lupus.

Menurut saya, tetep khas ya si Lupus ini baik di bukunya maupun di film2nya, sederhana dan nggak terlalu neko-neko. Menyentuh hati, iya. Ngocol, iya. Romantis, iya. Religius, iya. Ya itulah Lupus dan segala problematikanya. Tapi memang Lupus yang kali ini menurut saya memang agak kalem tapi tetep keren bro :D.

Ternyata ini tho kejutan dari Kang Hilman, mantab Kang :)

Pesannya padat banget di film ini, mulai dari bagaimana Lupus harus mengutamakan keluarganya dan tidak melupakan tanggung jawabnya sebagai pengganti ayahnya, catat ya, Lupus masih SMA, dan harus memikirkan itu juga, berat memang tapi itu tidak mustahil untuk dilakukan.

Mengenai prestasi, apalagi, kalo bukan anak2 yang bener2 rajin dan berkeyakinan kuat, tak mungkin Lupus dan temen2nya menjadi pemenang Go Green dan diundang Pak Menteri, itu pesan penting juga.

Yang tidak kalah penting, pas saat Lupus cs mau dikeroyok gara2 ulah Boim, pesannya tuh diperhatikan. Apa pesannya? Tonton filmnya saja, biar tahu lebih komplit dan jelas :)

Rugi kalo nggak nonton si Boim dan Gusur. Nonton 1 kali aja masih kurang, besok2 mau nonton lagi, karena pasti banyak adegan2 dan momen2 yang terlewat saat nonton :)

Welcome Back LUPUS :D

Minggu, 07 April 2013

Menulis, Obat terampuh untuk bangkit

laptop-writing-360Ya, itulah yang saya alami, menulis menjadi  salah satu “obat” terampuh bagi saya untuk bangkit. Hampir 1 tahun, “koma” karena bisnis yang jatuh, drop, dan akhirnya memacetkan ide-ide. Perlahan-lahan mulai “bangun” lagi, mencoba menulis dengan menuangkan ide2 :) seperti reborn.


Awalnya, ketika berhadapan si kompi, rasanya males dan berat untuk mulai mengetik. Ya ibarat pipa, pipanya sedang tersumbat. Hehehe. Setelah lama vakum dari dunia maya, dari bulan kemarin berkenalan lagi dengan twitter, mencari2 bahan-bahan untuk menulis.

Dan, hal yang perlu saya syukuri, ketika saya berniat untuk menulis (lagi), saya membaca tulisan-tulisannya Mas @rudicahyo, tentang hambatan2 dalam menulis. Dan ketemu dengan akun @blogfam, klop kebetulan yang luar biasa!

Setelah saya baca TL nya Mas @rudicahyo, ada tulisan dari kultuitnya Mas Rudi yang mengena, “tulis saja meskipun sedikit”, itu nampol banget buat saya. Ibarat beban itu, ya masih 1 kilogram, masih ringan. Malamnya saya mencoba menulis, dan menghasilkan 5 tulisan dan keesokannya saya mulai release blog di @blogfam.

Dan sekarang, rasanya nulis itu lancar banget. Apa saja bisa jadi tulisan. Terima kasih Mas Rudi @rudicahyo , penolong di saat yang tepat hehehe. Nggak lupa buat Mimin nya @blogfam tentunya, yang selalu rituit link blog saya hehehe, makasih2,,, :) *kirim chitatos segudang u/ mimin :D

Big Thanks tentunya buat blogger-blogger se Indonesia Raya, karena tulisan-tulisan mereka, saya mencoba mencari jatidiri dalam menulis, yang nyaman buat saya dan tentunya juga enak dibaca oleh siapapun :).

Kamis, 04 April 2013

Cinta, Bus dan Bandara

ahmad yani.main storyPagi itu, ketika bus meluncur memasuki jalan bebas hambatan, mataku sudah tak tertahankan lagi untuk tidur, ketika terbangun, bus sudah hampir sampai di terminal. “Jauh sekali dari tempat tujuan,” batinku. Setelah turun, aku bergegas menyeberang jalan untuk mencari bus-bus kecil yang ke jurusan bandara. Dan untungnya ada yang sejalur, kearah bandara.


Sampai bandara, baru jam 5.30, akhirnya aku memilih berjalan kaki menuju ke bandara daripada harus naik taksi atau ojek. Rasanya badanku memang capek setelah hampir 9 jam duduk di bus, tapi sudah tak kurasakan lagi, sesekali menghirup udara pagi dalam-dalam, aku menikmati langkah demi langkahku.

Sesampai di bandara, aku mulai bersih-bersih badan, cuci muka dan sebagainya. Masih jam 6 pagi ketika aku melihat jam. Kulihat info kedatangan, pesawat yang kutunggu itu datang sekitar jam 9 pagi. Aku tidak pergi kemana-mana pagi itu, aku hanya menjemput seseorang.

3 jam, waktupun terus bergulir, aku mencoba berjalan kesana kemari untuk menghilangkan bosan. Beberapa kali sempat mengobrol dengan driver2 yang menjemput bosnya. Dan akhirnya, aku duduk di ruang tunggu yang berjubel dengan barang2 penumpang, entah apa maksud mereka, menaruh barang2 itu di kursi ruang tunggu.

Sekitar jam 9.30, pesawat yang kutunggu dikabarkan sudah landing dengan selamat. Aku menunggu di pintu keluar untuk penerbangan internasional, satu persatu orang keluar dari pintu itu, tapi aku juga belum menemukan sosok itu. Entah kenapa hari itu rasanya bandara seperti terminal, tidak ada kesan eksklusif sama sekali, berjubel penuh sesak.

Hampir ½ jam aku menunggu, dan akhirnya keluarnya dia dari pintu itu. Wajahnya letih dan capek, tapi dia masih mampu untuk tersenyum. Aku muncul diantara kerumunan orang2 yang berjubel itu untuk membantunya membawakan tasnya. Aku hanya tersenyum ketika dia bertanya,”kok kamu disini?”. Tanpa banyak bicara, akhirnya kami pulang, aku tahu dia capek. Kurang lebih 1 jam, mobil yang kami tumpangi pun sampai dirumah.

Rasanya aku ikut seneng melihatnya happy, bisa trip ke luar negeri seperti yang diimpikan. Dan siang itu, aku langsung pulang lagi, menikmati 9 jam perjalanan lagi menuju rumahku. Mungkin capek, tapi semua sudah terbayar :).

Hari itu, aku berusaha menepati janjiku untuk menjemputnya.

Rabu, 03 April 2013

The Wedding Game

360x250_theweddinggame1


Sore tadi, sempet lihat salah satu film mandarin, judulnya The Wedding Game, melihat sipnosisnya sekilas sepertinya bagus juga, makanya tertarik untuk nonton.

Ceritanya ada 2 artis, cowok dan cewek, sama2 tenar, namun keduanya tidak akur. Nah, cerita ini berawal dari janji pra nikah antara kedua orang terkenal itu, jadi mereka dibayar mahal oleh vendor tapi harus menjalani hubungan yang palsu, berpura2 sebagai pasangan di depan public.

Bayangin saja, betapa lucunya, kalo tidak ada orang disekitar mereka, mereka saling marahan, saling hina menghina, ya seperti itulah. Tapi kalo sudah berada di ruang public, harus mesra layaknya orang pacaran. Selanjutnya, nonton sendiri ya :) ntar ga seru dong kalo diceritain,,,

Menurut saya bagus sih, mulai dari jalan ceritanya, acting keduanya dan setelah searching di google barusan, ternyata pemeran utamanya benar2 pasangan suami istri, keren habis,” Real life couple Fann Wong and Christopher Lee”, itu kata Wikipedia :).

Kesan Melayu nya dapat di film ini, meskipun filmnya  mandarin, karena ada beberapa scene yang take di Malaysia da nada juga backsoundnya lagu” Semua Bisa Bilang”. Meskipun diproduksi tahun 2008-2009, film ini masih asik juga untuk ditonton. Tidak heran sempat menjadi Box Office di Singapura dan Malaysia.

Note: Hati2 dengan Orang yang kamu benci, siapa tahu dia jodohmu :P

MY JOB IS MY HOBBY :)

FE_DA_LoveMyJob_JobsReturnSlideshow


Beberapa teman sempet saya tanyai,

perihal pekerjaan dan gaji mereka. Rata-rata ketika saya tanyain, apa yang kamu cari dari pekerjaanmu? Kompak, semua menjawab, untuk uang. Dan saya coba Tanya lagi, apakah itu berarti, kamu bekerja demi uang? Lagi-lagi kompak, menjawab iya semua. Sebenarnya tidak ada yang salah dengan jawaban itu semua. Wajar.

Tapi terkadang timbul pertanyaan dalam hati, kalo semua hanya karena uang, apakah mereka menikmati pekerjaan itu?

Saya akan coba share, cerita seseorang nih.

Dia mengawali karirnya sebagai marketing, kalo tidak salah 8 tahun yang lalu. Mengawali semuanya dari nol, mulai mencari klien, menghandle klien dan sebagainya, ya intinya jobdesk nya marketing.

Learning by doing, itu yang dilakukannya. Yang namanya belajar dari nol, pasti banyak nggak enaknya, karena belum tentu yang senior2 mau ‘menurunkan’ ilmunya dengan Cuma2. Patah semangat? Tidak lah, bukan cirinya dia :).

Semuanya dilakoni dengan hati dan hati-hati. Belajar dari banyak orang. Dan jujur, saya juga belajar banyak dari dia. Kadang banyak yang bertanya dan berasumsi kepada dia, tentang bulanan, gajinya. Diantara teman-temannya seangkatan, yang mungkin levelnya pun juga sudah tinggi, gajinya memang tidak seberapa, bisa dibilang sangat jauh dari bayangan orang2. Saya nggak akan bilang disini, meskipun tahu ya :). Rahasia dapur katanya hehehe.

Beberapa kali saya juga menyarankan untuk mencari kantor yang mau menghargai jerih payahnya lebih dari sekarang. Namun jawabannya sederhana,”aku mencintai pekerjaan ini, rasanya tidak seperti bekerja”. Itu jawabannya yang awalnya bikin saya geleng2, namun akhir2 ini saya juga dibikin geleng2 lagi karena sepertinya uang terus mengejarnya, how come?

Ini rahasianya, ketika dia ketemu klien, dia selalu membuat klien nyaman, dalam artian meskipun berkaitan dengan pekerjaan, tidak semuanya harus kaku. Ya seperti memperlakukan klien itu seperti sahabat, saudara bahkan family.

Dari kedekatan-kedekatan itu, klien yang pernah dihandle pun akhirnya bercuap-cuap kepada temen2nya sesama pengusaha, efek getok tularnya sangat terasa. Itu yang membuat uang mengejarnya, memang secara gaji tidak ada apa2nya dibandingkan rekan2nya, tapi dari target2 yang masuk, kucuran fee pun juga akan membanjiri dengan sendirinya :).

Cara dia membangun networking patut saya acungi jempol, lebih memilih  memaksimalkan potensi yang dia punya daripada meributkan gajinya yang kecil. Banyak-banyak bersyukur kata dia, itu juga kunci yang tak kalah pentingnya :).

Bagaimana dengan Anda? :)

“Pilih pekerjaan yang Anda cintai sehingga Anda tak perlu lagi (merasa) bekerja dalam hidup Anda.” - Confucius

*hari ini tgl 8 April 2013
orang yang saya ceritakan muncul di Buah Bibir Tribun Jogja

Selasa, 02 April 2013

Hidup Becak Jogja!

becak


Rasanya sudah tidak terhitung lagi, berapa kali pergi ke kota gudeg, Jogjakarta. Salah satu dari Top 5 tujuan wisata di list saya. Kalo dibilang banyak cerita disana, banyak teman disana, ngangenin itu sudah pasti lah. Budaya, lokasi wisata, makanan, ya itulah Jogja. :)

Hiruk pikuknya PKL di Malioboro pun menjadi salah satu faktor, kenapa saya selalu kembali ke Jogja. Umpel-umpelan* dengan turis lokal maupun turis asing di sepanjang jalan itu. Sumuk* tapi mengasyikkan. Ngeliat turis tawar-menawar, makelar-makelar oleh-oleh yang tak pernah berhenti berjuang dengan promo-promonya.

Btw, pernah kepikiran nggak, kenapa becak-becak yang ada di Malioboro selalu menawarkan jasanya dengan harga murah, kisaran Rp.3000 – Rp.5000 untuk puter-puter Jogja (lebih tepatnya ke kawasan oleh2)? :)

Ada bocorannya nih, salah satu teman saya yang punya usaha kaos plesetan di daerah Kraton, pernah saya tanya2 tentang hal itu. Dia pun cerita, ya itulah hebatnya becak Jogja, sekilas murmer untuk tarifnya, tapi fee yang di dapat dari penjual oleh-oleh yang di datangi turis pun juga tidak main-main, lebih besar dari jasa genjotnya.

Coba dihitung berapa penghasilan becak Jogja ini pas weekend ( weekdays, pasti alamat sepi, kecuali liburan sekolah). Dari Malioboro, pasti Anda akan di ajak untuk berputar-putar kearah Kraton, pemberhentian pertama, biasanya di tempat tokonya teman saya ini, terus lanjut ke toko batik, setelah itu ke toko bakpia, ada 3-5 tujuan.

Dari 3-5 toko ini, saya asumsikan Anda belanja di 3 toko, tiap toko saya asumsikan memberi fee minimal Rp.20.000, jadi total fee yang di dapat Rp.60.000, nah kalo becak tadi sehari bisa ngangkut 10 orang, bisa bayangin kan berapa penghasilan becak Jogja, bahkan bisa lebih hehehe,, belum lagi ongkos nggenjotnya :D

Tapi jangan coba-coba hanya sekedar naik becak tanpa beli oleh-oleh ya, bisa- bisa Anda diturunin di tengah jalan hahaha… Tapi benaran lho, saya sudah beberapa kali mengalami,,,   :D

*umpel-umpelan = berdesak-desakan
*sumuk = gerah

Senin, 01 April 2013

alone


Membaca salah satu quotenya motivator yang satu ini,

“Jangan pernah menganggap remeh siapapun, suatu hari Anda mungkin akan perlu bantuan orang tersebut. ~ Merry Riana”,

jadi keinget kejadian yang saya alami sendiri.

Beberapa waktu yang lalu, setelah di “wisuda” karena kebangkrutan bisnis saya, alhasil pendapatan nol besar selama berbulan-bulan, sementara tagihan menumpuk. Jujur, sama sekali saya tidak punya uang waktu itu.

Terkadang saya pun curhat dengan driver2 yang bekerja dirumah sodara saya, tapi bukan curhat yang meminta belas kasihan ya. Biasanya saya suka curhat tentang kondisi rumah atau peluang2 bisnis, ya intinya bisa ngobrol untuk ngurangin beban. Saya sudah menganggap mereka seperti sodara sendiri dan tidak rikuh mau jalan kemana saja dengan mereka.

Pernah suatu ketika, saya dan mereka mengobrol tentang gaji mereka, sambil bercanda2, yang mereka ibaratkan gaji yang kemarin belum habis, tapi sudah dapat lagi. Saya pun ikut senang dengan kondisi mereka. Meskipun dalam hati, saya sempet menggumam, “betapa senangnya mereka, punya duit”.

Keesokannya karena ditugasi ke luar kota, mereka pun berpamitan. Tak disangka, malam itu salah seorang driver menghampiri saya, dan memberikan uang 60rb, jujur saja saat itu saya bingung, dan bertanya “apa maksudnya ini?”, dia pun menjawab, “buat pegangan mas, maaf hanya ada segitu”.  Setelah itu, saya tidak bisa ngomong apa2, saya hanya bilang terima kasih banyak.

Malam itu antara saya seneng karena dapat uang, tapi juga bingung karena ada hal yang janggal. Saya percaya, Tuhan memberikan bantuan darimana saja, yang tanpa pernah saya pikirkan jalannya. Yang pasti, saya tak pernah sendirian.

Terima Kasih Tuhan,, :)